Panduan wisata ke Desa Wisata Wae Rebo Flores




Desa Wae Rebo adalah salah satu kampung wisata Indonesia yang belum begitu populer. Bukan karena belum dikunjungi, namun Desa Wae Rebo lebih menarik perhatian bagi wisatawan mancanegara di bandingkan wisatawan lokal sendiri. Kampung Adat Waerebo merupakan kampung tradisional terpencil yang terletak di kecamatan Satarmase Kabupaten Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores Provinsi NTT.

Siapa pun pasti mengenal wisata alam yang disuguhkan oleh surga dari Indonesia Timur yang gemar dan dijadikan tujuan wisata turis mancanegara ini. Wae Rebo Labuan Bajo merupakan lokasi dimana anda dapat menghirup udara pegunungan di sebuah pedesaan terpencil dan asri yang sejuk berlokasi di Flores tepatnya di Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Rute Menuju Lokasi

Apabila anda berangkat menggunakan pesawat, dapat turun di bandara terdekat atau disarankan turun di Denpasar (sekaligus mampir ke Pantai Sanur dan Kuta) baru kemudian naik kapal Feri jarak jauh selama kurang lebih 4 sampai 5 jam ke Nusa Tenggara Timur.
Sesampai di sana, naik bus umum ke Labuan Bajo yang di situ pula terdapat Manta Point yang tidak boleh dilewatkan untuk bertemu para Manta. Dari Labuan Bajo, anda kemudian meneruskan perjalanan ke Denge sejauh kurang lebih 2 hingga 3 jam lalu dilanjut ke Wae Rebo di lembah pegunungan dengan berjalan kaki sejauh 4 jam dan melewati sungai kemudian sampai di Wae Rebo Labuan Bajo.

Keunikan Desa Wae Rebo

1. Asal Usul Wae Rebo

Tidak lengkap rasanya membahas keunikan suatu obyek wisata tanpa terlebih dahulu mengetahui asal-usulnya. Wae Rebo ternyata memiliki garis keturunan Minangkabau lho? Nah, unik kan?
Ceritanya di masa lalu ada seseorang bernama Empo Maro yang berasal dari Minangkabau. Empo Maro berlayar dari Pulau Sumatera hingga ke Labuan Bajo. Awalnya tidak memiliki tempat tinggal tetap hingga akhirnya bermukim di Desa Wae Rebo.

2. Rumah Adat Yang Berbentuk Unik

Wae Rebo memiliki rumah adat yang berbentuk unik. Yaitu berbentuk kerucut yang hampir tidak ditemukan di rumah-rumah adat lainnya di Indonesia. Namun bentuk rumah ini juga masih tetap memiliki makna tersendiri.
Suku ini membuat rumah berdasarkan cara hidup yang mereka yakini. Rumah ini terdiri dari lima lantai dan banyak ruangan. Setiap lantai memiliki fungsinya masing-masing seperti tempat berkumpul, menyimpan bahan makanan, beribadah dan fungsi lainnya.

3. Hanya Terdapat 7 Rumah di Desa Wae Rebo

Selain bentuknya yang unik, di Desa yang disebut sebagai desa yang terletak paling tinggi di Indonesia ini hanya terdapat 7 rumah kerucut. Rumah adat yang berbentuk kerucut ini diberi nama Mbaru Niang.


4. Penduduk Asli Yang Ramah

Bercengkerama dan mengenal langsung dengan adat istiadat dengan budaya setempat merupakan salah satu cara melihat dan menyaksikan langsung keberagaman suku adat di Indonesia yang patut kita syukuri dan lestatikan. Penduduk kaki gunung di Wae Rebo terkenal ramah dengan pengunjung dan siap membantu kapan saja.
Pengunjung biasanya membawa beberapa buku untuk kemudian berbagi dengan anak-anak penduduk setempat dan mendonasikannya di perpustakaan desa. Rumah penduduk desa di sini terbuat dari anyaman dan atap dari dedaunan dan ijuk yang asri dan tradisional serta tentunya menambah wawasan kita akan rumah adat di Nusantara.

5. Perbukitan Hijau

Tujuan utama wisata bagi pengunjung pastilah bukit nan cantik dan menawan Wae Rebo dengan bonus interaksi langsung dengan masyarakat native. Trek menuju perbukitan ini memang tidak mudah, belum lagi akses menuju desa yang harus di tempuh dengan berjalan kaki sejauh 4 jam. Namun usaha ini tentu tidak akan sia-sia untuk dapat menikmati pemandangan atas yang luar biasa dan melihat laut lepas Timur yang indah dan eksotis.

6. Warisan Budaya Dunia

Ternyata Desa ini dinobatkan seabgai salah satu warisan budaya dunia dengan segala keunikannya. UNESCO sebagai pihak yang berwenang, menobatkannya pada tahun 2012.
Penobatan ini berdasarkan kelangkaannya serta keunikan Desa dan bentuk rumah Mbaru Niang. Pada tahun selanjutnya, lokasi ini juga mendapat penghargaan sebagai salah satu kawasan konservasi warisan budaya UNESCO Asia – Pasifik.

7. Extreme Sport Trail Track

Kawasan perbukitan merupakan kawasan yang pas untuk melakukan olahraga ekstrim, mulai dari Jeep hingga motor trail telah tersedia di sepanjang akses memungkinkan menuju kawasan perhutanan di wilayah Wae Rebo. Bagi yang telah ahli dalam mengemudikan kendaraan semacam itu tentu tidak sulit dan akan tertantang untuk melalui medan ekstrim, namun bagi pemula aka nada pemandu yang siap menemani.


TENTANG WAE REBO
  • Biaya Masuk & menginap per orang kekampung waerebo yakni Rp 325.000 sudah termasuk Welecome Tea, Makan Malam, Sarapan Pagi dan kasur maupun selimut hangat.
  • Buat yang hanya sekedar berkunjung tanpa menginap dikenakan biaya Rp 250.000 sudah mendapat welcome tea dan 1 kali makan
  • Desa terakhir sebelum Treking ke Waerebo adalah Desa Denge, dari desa ini kalian bisa menginap jika tidak ingin menginap di wae rebo
  • Kendaraan hanya sampai jembatan terakhir. Nah dari jembatan ini kalian bisa berjalan kaki 20-30 menit untuk tiba dipos awal treking ke waerebo. Bisa juga naik ojeklebih cepatdengan biaya Rp 25.000
  • Wajib memakai Guide lokal yang biasa mangkal di parkiran terakhir. Misalnya rombongan 15 orang cukup 1 guide saja dengan biaya 1 hari 250-300an.
  • Desa waerebo sudah dilengkapi Listrik . Ada colokan dan lampu jadi bisa mencarger.
  • Ada kamar mandi & Toilet yang cukup bersih, termasuk modern bisa duduk atau jongkok


Lokais Desa Wisata Wae Rebo

Panduan wisata ke Desa Wisata Wae Rebo Flores Panduan wisata ke Desa Wisata Wae Rebo Flores Reviewed by sandro on Saturday, August 31, 2019 Rating: 5

No comments

Terima kasih sudah berkomentar.
Thank you for your comment.

Video

Raja Ampat-Indonesia